BPBD Gorontalo Paparkan Strategi Penanggulangan Karhutla Di Forum Kolaboratif DLHK
BPBD Gorontalo Paparkan Strategi Penanggulangan Karhutla di Forum Kolaboratif DLHK
GORONTALO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mengungkapkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Komitmen tersebut disampaikan melalui Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, Moh. Tahir Laendeng, yang menjadi narasumber sekaligus pemantik diskusi pada kegiatan "Membangun Kolaboratif Forum Parapihak dan Pemilik Izin Perhutanan Sosial dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan" yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Gorontalo di Hotel Aston, Jalan Manggis, Kelurahan Libuo, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, Kamis (22/7/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari instansi pemerintah, pemilik izin perhutanan sosial, akademisi, hingga organisasi masyarakat yang memiliki peran strategis dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Gorontalo.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi Gorontalo, Rusli W. Nusi melalui Moh. Tahir Laendeng memaparkan materi bertajuk "Teknik Penanggulangan Bencana pada Kebakaran Hutan dan Lahan". Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai aspek mendasar yang harus dipahami dalam pengendalian karhutla, mulai dari pengertian kebakaran hutan, faktor penyebab, konsep segitiga api, hingga tipe-tipe kebakaran hutan yang memerlukan metode penanganan berbeda.
Menurut Tahir, pemahaman terhadap penyebab dan karakteristik kebakaran merupakan langkah awal dalam menyusun strategi pencegahan yang efektif.
"Pengendalian karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi harus dimulai dari upaya mitigasi dan pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah langkah strategis yang perlu terus diperkuat di daerah, di antaranya penyusunan peta kerawanan kebakaran hutan di setiap kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo, pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat, penyebaran leaflet edukasi, pemasangan papan informasi pengendalian kebakaran hutan, serta pembentukan **Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan pencegahan kebakaran.
Selain itu, koordinasi lintas instansi juga menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla, termasuk kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki sumber daya dan kemampuan teknis dalam operasi pengendalian maupun pemadaman kebakaran hutan.
Dalam forum tersebut, Tahir juga mengulas kebijakan nasional melalui Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, yang menjadi landasan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat upaya pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat, hingga pemulihan pascakebakaran.
Ia turut memaparkan teknik utama dalam pengendalian karhutla, termasuk pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)sebagai salah satu alternatif penanganan pada kondisi tertentu, khususnya ketika kebakaran meluas dan membutuhkan dukungan operasi berskala besar.
Tak kalah penting, Tahir menekankan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai kearifan lokal yang telah lama diterapkan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan perlu terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai bagian dari strategi pencegahan berbasis komunitas.
"Masyarakat merupakan ujung tombak pencegahan. Kesadaran untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, segera melaporkan titik api, serta menjaga kawasan hutan merupakan bentuk partisipasi nyata yang sangat menentukan keberhasilan pengendalian karhutla," jelasnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta mengenai tantangan pengendalian kebakaran hutan di Gorontalo, khususnya pada musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya karhutla.